Jakarta, 3 November 2026* - PT PLN (Persero) memperkuat kemitraan strategis dengan Pemerintah Australia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (_Memorandum of Understanding_/MoU) untuk memperluas kerja sama di bidang transisi energi, pengembangan sumber daya manusia, teknologi, serta pembiayaan dan investasi pada Kamis, (29/10). Kolaborasi ini mendukung penguatan infrastruktur ketenagalistrikan nasional guna mencapai target _Net Zero Emissions_ (NZE) tahun 2060.
Wakil Direktur Utama PLN, Yusuf Didi Setiarto, mengatakan kemitraan ini membuka peluang bagi PLN untuk mengakses pengetahuan, teknologi, dan dukungan pembiayaan guna mempercepat transformasi dari penyedia listrik (_electricity provider_) menjadi penyedia solusi energi (_energy solution provider_).
“Dukungan Pemerintah Australia memiliki arti penting bagi PLN, baik dalam pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan dan teknologi, maupun penjajakan peluang pembiayaan. Kami berharap kemitraan ini terus berkembang untuk memperkuat kapabilitas PLN dalam menjawab tantangan transisi energi dan menyiapkan pemimpin masa depan di sektor ketenagalistrikan,” ujar Didi.
Sebagai tindak lanjut MoU, PLN dan Pemerintah Australia mengembangkan program-program kolaborasi yang mencakup penguatan infrastruktur ketenagalistrikan dan pembiayaan strategis, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas menghadapi risiko perubahan iklim, dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam penguatan infrastruktur, kedua pihak menjajaki dukungan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening guna meningkatkan keandalan jaringan dan pasokan listrik di Jawa Timur dan Bali. Proyek ini diarahkan untuk memperkuat jaringan ketenagalistrikan di Jawa Timur dan Bali melalui pembangunan dan peningkatan infrastruktur transmisi, gardu induk, serta jaringan distribusi.
Selain infrastruktur, kerja sama teknis kedua negara juga membuka peluang pengembangan teknologi untuk memperkuat fleksibilitas sistem ketenagalistrikan. PLN menjajaki kolaborasi dengan lembaga riset dan instansi pemerintah Australia, antara lain _Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation_ (CSIRO) serta _Department of Climate, Environment and Water_.
Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan fleksibilitas jaringan, _Battery Energy Storage System_ (BESS), serta fleksibilitas operasi pembangkit. Ketiga aspek ini menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam mengintegrasikan pasokan listrik dari pembangkit EBT yang memiliki karakteristik produksi bergantung pada kondisi alam.
PLN juga memperkuat kesiapan sistem ketenagalistrikan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Bersama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (_Department of Foreign Affairs and Trade_), PLN menjalankan program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem untuk meningkatkan kapasitas pengambilan keputusan berbasis skenario iklim (_climate-informed decision-making_).
Di bidang pengembangan SDM, PLN bersama Pemerintah Australia melalui program Australia-Indonesia Climate and Sustainable Infrastructure Partnership (KINETIK) menyusun _Three-Year Human Capital Development Roadmap_ periode 2027–2030. Peta jalan ini diselaraskan dengan target _Net Zero Emissions_ (NZE), prioritas Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta prinsip _Just Energy Transition_.
“Penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan kualitas SDM. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional, kami ingin menyiapkan talenta PLN yang mampu mengelola sistem ketenagalistrikan masa depan sekaligus menghadirkan solusi energi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” imbuh Didi.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menyambut positif penguatan kemitraan kedua negara. Menurutnya, PLN merupakan mitra penting dalam transisi energi Indonesia, khususnya dalam mendukung elektrifikasi dan pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan.
“Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut. Kemitraan ini juga bersifat timbal balik. Kami belajar banyak dari PLN dalam memahami lingkungan dan kebutuhan Indonesia, yang semakin memperkaya hubungan kedua negara,” ungkap Brazier.
Melalui kemitraan ini, PLN dan Pemerintah Australia berharap dapat memperkuat kolaborasi jangka panjang yang mencakup pengembangan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sinergi tersebut akan mendukung terwujudnya sistem ketenagalistrikan Indonesia yang semakin andal, berkelanjutan, dan rendah emisi. (@dex)
Editor : Redaksi