“SINDIKAT LOVE SCAMMING LINTAS NEGARA DIBONGKAR! 53 KORBAN TERJEBAK, MODUS CINTA PALSU RUGIKAN Rp1,1 MILIAR”

Reporter : Redaksi

JAWA TIMUR | ALDERA NEWS – Aksi kejahatan bermodus cinta kembali terbongkar di Indonesia. Direktorat Siber Kepolisian Daerah Jawa Timur berhasil mengungkap jaringan penipuan online berkedok “love scamming” yang diduga telah menjerat puluhan korban dengan total kerugian fantastis mencapai sekitar Rp1,1 miliar.

 

Dalam pengungkapan yang dilakukan pada Senin (22/6/2026), aparat kepolisian mengamankan tiga orang tersangka. Dua di antaranya merupakan warga negara asing, masing-masing berasal dari Ghana dan Pantai Gading, sementara satu lainnya adalah warga negara Indonesia yang berperan sebagai admin sekaligus pihak yang menampung serta mengalirkan uang hasil kejahatan.

 

Modus: Hubungan Palsu yang Dibangun Bertahap

 

Dari hasil penyelidikan, sindikat ini menjalankan aksinya dengan sangat sistematis dan terstruktur. Para pelaku menyasar korban perempuan berusia sekitar 45 hingga 60 tahun melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga WhatsApp.

 

Setelah berhasil menghubungi target, pelaku mulai membangun kedekatan emosional secara perlahan. Komunikasi intens dilakukan melalui pesan singkat, panggilan suara, hingga video call yang berlangsung berhari-hari, bahkan bisa berbulan-bulan, hingga korban benar-benar merasa memiliki hubungan emosional layaknya pasangan.

 

Untuk memperkuat tipu daya, pelaku menggunakan identitas palsu dengan citra pria mapan, religius, dan memiliki status sosial tinggi. Salah satu nama yang digunakan dalam aksi penipuan ini adalah “Haji Kamal Zaki”, yang dirancang untuk meningkatkan kepercayaan korban.

 

Iming-iming Hadiah Berujung Jerat Uang

 

Setelah korban masuk dalam fase emosional dan mulai percaya, pelaku kemudian melancarkan modus lanjutan dengan menawarkan hadiah-hadiah mewah seperti laptop, perhiasan, hingga jam tangan mahal.

 

Namun, skenario penipuan mulai muncul ketika korban dihubungi oleh pihak lain yang mengaku sebagai petugas ekspedisi atau bea cukai. Korban diberi informasi bahwa paket hadiah tertahan di pelabuhan atau bandara dan harus segera membayar biaya administrasi untuk proses pengeluaran barang.

 

Tanpa curiga, banyak korban akhirnya mentransfer uang secara bertahap dengan harapan hadiah yang dijanjikan bisa segera diterima. Padahal, seluruh paket tersebut tidak pernah ada dan hanya bagian dari rekayasa sindikat.

 

53 Korban Terdata, Kerugian Capai Ratusan Juta per Orang

 

Hasil pendalaman kasus mengungkap bahwa jaringan ini telah beroperasi sejak Agustus 2025. Hingga saat ini, setidaknya terdapat 53 korban yang teridentifikasi berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

 

Dari jumlah tersebut, 22 korban diketahui berasal dari wilayah Jawa Timur. Kerugian yang dialami masing-masing korban bervariasi, mulai dari belasan juta rupiah hingga lebih dari Rp100 juta per orang, tergantung pada seberapa jauh korban terjebak dalam skema manipulasi tersebut.

 

Temuan Keimigrasian dan Pengembangan Kasus

 

Selain kasus penipuan, aparat juga menemukan pelanggaran keimigrasian yang dilakukan salah satu tersangka warga negara asing. Diketahui, pelaku telah melebihi izin tinggal (overstay) hingga 885 hari di Indonesia.

 

Pihak kepolisian menyatakan bahwa penyidikan masih terus dikembangkan untuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan lain yang lebih luas, termasuk potensi tambahan korban di berbagai daerah maupun luar negeri.

 

Aparat juga mendalami aliran dana serta peran masing-masing pelaku dalam struktur sindikat yang diduga telah bekerja secara terorganisir lintas negara.

 

Imbauan Kepolisian

 

Polisi mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap modus penipuan berkedok hubungan asmara di media sosial. Warga diminta tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal secara daring, terlebih jika sudah mulai membahas pengiriman barang atau meminta uang dengan alasan apa pun.

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber semakin berkembang dengan pola yang semakin halus dan menyasar sisi emosional korban.

 

 

ALDERA NEWS

Berani Tajam Terpercaya

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Populer
Berita Terbaru