Dari Balik Jeruji Medaeng: Perang Melawan Narkoba Lewat Kuas, Harapan Itu Nyata

Reporter : Redaksi

ALDERA NEWS

 

 

Surabaya – Perang melawan narkoba tidak selalu dilakukan di jalanan atau ruang sidang. Di dalam tembok pembinaan, perjuangan itu justru terasa lebih sunyi—namun penuh makna. Seperti yang terjadi di Rutan Kelas I Medaeng, Surabaya, di mana harapan tumbuh melalui goresan kuas dan warna.

 

Sebuah karya lukisan yang lahir dari tangan warga binaan menjadi simbol nyata perubahan. Bukan sekadar seni, melainkan jeritan batin, penyesalan, sekaligus tekad untuk bangkit dari masa lalu yang kelam akibat jerat narkoba.

 

Program pembinaan yang diberikan oleh petugas rutan terbukti mampu membuka jalan baru bagi para narapidana. Mereka tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga dibekali keterampilan dan ruang untuk memperbaiki diri.

 

Salah satu warga binaan mengungkapkan kisahnya dengan penuh emosi. Ia mengaku, masa-masa awal menjalani hukuman dipenuhi gejolak batin, rasa rindu keluarga, hingga bayang-bayang kecanduan narkoba yang terus menghantui pikirannya.

 

“Dulu pikiran saya kacau. Rasa ingin menggunakan narkoba itu terus datang. Terbayang terus apa yang pernah saya rasakan. Tapi saya lawan,” ungkapnya lirih.

 

Perlahan, perubahan mulai terjadi saat dirinya diberikan kesibukan melukis. Dari yang awalnya tidak bisa, kini ia mampu menghasilkan karya yang mulai dilirik banyak orang.

 

“Alhamdulillah, sekarang lukisan saya sudah bisa dinikmati. Saya bangga, bukan karena hasilnya saja, tapi karena saya bisa mengalahkan diri saya sendiri. Pikiran saya yang dulu selalu ke arah barang terlarang, sekarang berubah,” lanjutnya.

 

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada petugas Rutan Medaeng yang telah membimbingnya tanpa lelah.

 

“Saya berterima kasih kepada bapak-bapak di rutan yang sudah membimbing saya. Dulu saya terombang-ambing, sekarang saya punya arah,” katanya.

 

Tak hanya pembinaan keterampilan, pendekatan humanis juga menjadi kunci. Sosok Ketua Keamanan Rutan yang akrab disapa Pak Hengky dikenal dekat dengan para warga binaan. Ia tak pernah lelah memberikan motivasi dan penguatan mental.

 

“Jangan pernah putus asa. Ini bukan akhir. Justru ini teguran dari Allah SWT agar kita menjadi lebih baik. Syukuri proses ini. Kalau nanti bebas, jadilah pribadi yang lebih kuat dan bisa diterima masyarakat dengan baik,” pesan Pak Hengky kepada para warga binaan.

 

Pendekatan seperti ini menjadi bukti bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menghukum, melainkan membina. Memberi harapan bagi mereka yang sempat tersesat, agar bisa kembali ke jalan yang benar.

 

Melalui kegiatan seni lukis, para warga binaan tidak hanya menemukan bakat terpendam, tetapi juga menemukan kembali jati diri mereka. Setiap goresan warna menjadi terapi, menjadi pelipur lara, sekaligus bentuk perlawanan terhadap bayang-bayang narkoba.

 

Kini, dari balik jeruji, mereka membuktikan bahwa perubahan itu nyata. Bahwa harapan tidak pernah padam, selama masih ada kemauan untuk bangkit.

 

ALDERA NEWS – Tajam, Berani, dan Menginspirasi

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Populer
Berita Terbaru