GRIYA ABHIPRAYA SOMBERE NAIK KELAS! JADI PILIHAN UTAMA PENEGAK HUKUM BINA ANAK BERMASALAH

Reporter : Redaksi

MAKASSAR — Peran Griya Abhipraya Sombere di bawah naungan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Makassar kini tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Lembaga pembinaan ini kian dilirik dan mulai diposisikan sebagai garda depan dalam menangani anak yang berkonflik dengan hukum.

 

Kepercayaan itu bukan sekadar wacana. Dalam sejumlah perkara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kini secara tegas merekomendasikan Griya Abhipraya Sombere sebagai tempat pembinaan. Teranyar, pada Rabu (22/4/2026), dalam kasus kekerasan yang ditangani Kejaksaan Negeri Makassar, seorang anak secara khusus diarahkan untuk menjalani pembinaan di fasilitas tersebut.

 

Fenomena ini menjadi sinyal kuat: pendekatan pembinaan yang diterapkan Bapas Makassar dinilai efektif dan semakin mendapat legitimasi dari aparat penegak hukum. Griya Abhipraya Sombere tak lagi sekadar opsi alternatif, melainkan mulai menjadi solusi utama.

 

Lukman, Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya Bapas Makassar, menegaskan bahwa meningkatnya kepercayaan ini merupakan bukti nyata keberhasilan pendekatan yang lebih manusiawi.

 

“Anak tidak bisa terus-menerus dilabeli sebagai pelaku. Mereka adalah individu yang harus dibina, diarahkan, dan diberi kesempatan memperbaiki masa depan,” tegasnya.

 

Hal senada disampaikan Kepala Bapas Kelas I Makassar, Surianto. Ia menilai, kepercayaan dari aparat penegak hukum adalah bentuk pengakuan terhadap sistem pembinaan yang mengedepankan nilai kemanusiaan.

 

“Pendekatan kami bukan sekadar menghukum. Anak adalah subjek yang harus dilindungi, dibimbing, dan dipulihkan agar bisa kembali ke masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.

 

Di Griya Abhipraya Sombere, proses pembinaan dirancang secara komprehensif: mulai dari pendampingan hukum, pembinaan mental, hingga penguatan karakter. Lingkungan yang ramah anak menjadi kunci agar proses pemulihan berjalan optimal.

 

Surianto juga menekankan pentingnya sinergi antara Bapas dan aparat penegak hukum dalam membangun sistem peradilan anak yang berkeadilan.

 

“Putusan hukum harus berdampak positif. Bukan hanya menyelesaikan perkara, tapi juga membangun masa depan anak,” imbuhnya.

 

Dengan semakin meningkatnya kepercayaan terhadap Griya Abhipraya Sombere, model pembinaan berbasis kemanusiaan ini diharapkan bisa menjadi contoh nasional. Bahwa menangani anak yang berhadapan dengan hukum bukan soal hukuman semata, melainkan tentang harapan, perubahan, dan masa depan.

 

ALDERA NEWS

Berani, Tajam, Terpercaya

 

(Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Populer
Berita Terbaru