DIDUGA DISIKSA DI DALAM LAPAS! Eks Napi Kediri Alami Patah Tulang, Tolak “Damai THR” — Oknum Petugas Disorot Tajam

Reporter : Redaksi

ALDERA NEWS

KEDIRI — Aroma dugaan kekerasan di balik tembok lembaga pemasyarakatan kembali menyengat. Seorang mantan narapidana Lapas Kelas IIA Kediri, Eka Faisol Umami (31), buka suara dan memilih jalur hukum setelah mengaku menjadi korban penganiayaan brutal oleh oknum petugas.

 

Bukan sekadar luka ringan, Faisol mengklaim dirinya kini hidup dengan cacat permanen akibat insiden yang terjadi saat ia masih menjalani masa tahanan.

 

Laporan resmi pun telah dilayangkan ke Polres Kediri Kota dengan nomor LP/B/379/III/2026/SPKT/Polda Jatim, menyeret lima nama petugas berinisial W, D, F, A, dan R yang dituding terlibat.

 

Peristiwa itu disebut terjadi pada 28 Mei 2025 di ruang Keamanan dan Ketertiban (Kamtib). Faisol menggambarkan kejadian tersebut sebagai aksi kekerasan yang tidak manusiawi.

 

“Saya dipukul, ditendang sampai terpental, lalu dibanting. Mereka bergantian menghajar saya,” ungkapnya, Rabu (1/4/2026).

 

Akibat kejadian itu, tulang paha kirinya patah—cedera serius yang menurutnya mengubah hidupnya selamanya.

 

 

 

 

Upaya “Damai” Disorot: THR Jadi Jalan Tengah?

 

Yang lebih mengejutkan, Faisol juga mengungkap adanya dugaan upaya penyelesaian secara diam-diam. Ia mengaku didatangi pihak tertentu yang menawarkan jalan damai, bahkan disertai bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR).

 

Namun, tawaran itu ditolaknya tanpa kompromi.

 

“Ini bukan soal uang. Saya cacat seumur hidup. Tidak ada yang bisa menggantikan itu,” tegasnya.

 

Pengakuan ini memantik pertanyaan serius: apakah ada upaya meredam kasus sebelum mencuat ke publik?

 

 

 

Versi Lapas: ‘Terpeleset’, Tanpa Bukti Visual

 

Di tengah tudingan keras tersebut, pihak Lapas Kelas IIA Kediri memilih membantah. Kepala Lapas, Solichin, menyatakan tidak ada penganiayaan seperti yang dituduhkan.

 

Versi internal menyebut Faisol mengalami kecelakaan biasa.

 

“Petugas yang diperiksa konsisten menyatakan yang bersangkutan terjatuh atau terpeleset,” ujarnya.

 

Namun, pernyataan ini tak lepas dari sorotan. Pasalnya, tidak adanya rekaman CCTV di lokasi kejadian membuat kebenaran sulit diverifikasi secara objektif.

 

Ironisnya, alasan yang disampaikan adalah klasik: keterbatasan anggaran.

 

Tak hanya itu, salah satu petugas yang dituding sebagai pelaku utama, berinisial W, diklaim tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

 

 

 

Publik Bertanya: Kecelakaan atau Kekerasan?

 

Dua versi yang bertolak belakang kini mengemuka—di satu sisi pengakuan korban yang mengaku dianiaya hingga cacat permanen, di sisi lain bantahan institusi yang menyebut insiden sebagai kecelakaan.

 

Ketiadaan CCTV semakin memperkeruh situasi dan membuka ruang spekulasi publik.

 

Apakah ini murni kecelakaan? Atau ada sesuatu yang sengaja ditutupi?

 

Kini, bola panas berada di tangan penyidik Polres Kediri Kota. Masyarakat menanti keberanian aparat untuk mengungkap fakta tanpa kompromi.

 

Kasus ini menjadi ujian serius: apakah keadilan benar-benar berpihak pada korban, atau justru kembali kalah oleh tembok kekuasaan?

 

 

 

ALDERA NEWS

Berani • Tajam • Terpercaya

 

( Redaksi)

Editor : Redaksi

Berita Populer
Berita Terbaru